WAWANCARA 3

TOKOH AGAMA KRISTEN

Oleh : Pdp. Eliezar Dany Soebroto, M.A.

 

 

Tema Diskusi                          : Peran agama sebagai lambang perdamaian dunia

Judul Kegiatan                        : Wawancara dengan Tokoh Agama Kristen

Lokasi Kegiatan                      : Gereja Bethel Indonesia

Pembagian Tugas Kegiatan     :

– Suci Ramadhanti menjadi penanya

– Setyaji Bayu menjadi penanya

– Jesica Anastasia, Christian, dan Laurensius Bayu
mengambil video, suara, dan gambar

– Chrismonika menjadi notulen

 

Metode kegiatan                     : Wawancara

Waktu dan lokasi diskusi        : Hari Kamis, 25 Oktober 2017, di Gereja Bethel Indonesia

 

Laporan hasil wawancara:

 

 

  1. Menurut Bapak pendeta, apakah pengertian dari perdamaian dalam ajaran kristen?

Jawab :

Berdamai atau perdamaian berarti ada unsur damai tidak ada konflik. Menurut agama Kristen kita harus bisa berdamai dengan tuhan terlebih dahulu baru bisa berdamai dengan orang lain. Contohnya perang saudara dan konflik-konflik yang diributkan hanya masalah beda prinsip saja, kalau hubungan kita dengan tuhan dekat otomatis kita bisa mengasihi sesama.

 

  1. Menurut Bapak pendeta, bagaimana cara mewujudkan perdamaian itu?

Jawab:

Dalam ajaran agama kristen untuk mewujudkan perdamaian kita sebagai orang Kristen harusnya menjadi atau membawa kedamaian bagi orang lain bukan malah ikut menimbulkan masalah, seharusnya Kristen sejati itu seharusnya tidak menimbulkan masalah tetapi harus bisa menjadi penengah dan membawa kedamian. Untuk perdamaian kita harus mengerti terlebih dahulu tentang tuhan kita seperti apa.

 

  1. Apa pendapat Bapak pendeta terhadap kasus Rohingya?

Jawab:

Kalau saya lihat dari berita-berita itu sebenarnya bukan sekedar masalah agama tetapi masalah perbedaan ras, saya juga kurang mengerti apakah alasannya hanya sekedar ras atau ada masalah perbedaan agama tetapi yang jelas perbedaan itu pasti ada. Tidak usah jauh-jauh untuk Rohingya di Indonesia sendiri kalau ada perbedaan suku, ras, agama atau latar belakang bisa menjadi ribut kebetulan saja di Indonesia tali pengikatnya Pancasila itu sangat baik sedangkan di Myanmar disayangkan pemerintahnya tidak bisa mengakomodir keseluruhan rakyatnya seakan-akan dari yang saya baca Rohingya ini orang tanpa warga negara.

 

  1. Menurut Bapak pendeta, apa solusi terhadap kasus Rohingya?

Jawab:

Jujur saya tidak tahu solusinya seperti apa tetapi dari yang saya lihat kalau masing-masing pihak mau merendahkan diri sama-sama, mengobrol dengan baik-baik, harus bisa saling melindungi. Kalau menurut saya hanya ego masing-masing saja, ego dari pemerintah, ego dari rakyat yang tidak mau menerima rohingya dan berhenti saling menyalahkan.

 

  1. Tindakan nyata apa yang sudah dilakukan?

Jawab:

Menurut saya sih belum ada, beberapa kali saya lihat spanduk dari suatu organisasi bertuliskan “SAVE ROHINGYA” saya ragu bantuannya sampai karena menurut saya apakah semudah itu mereka mengirim bantuan kesana? Misalnya mereka mau kirim sesuatu itu kirim apa, misalnya pun mereka betul mengirim bantuan itu lewat mana dan kepada siapa. Jujur dari gereja pun kami belum mengirim bantuan apapun karena kami juga bingung kirim kemana dan apa yang kami kirim.

 

  1. Saeperti yang kita ketahui bahwa agama dibuat untuk dibuat mendamaikan tetapi malah menjadi rusuh. Bagaimana pendapat Bapak pendeta terkait hal tersebut?

Jawab:

Awal agama dibuat bukan untuk mendamaikan manusia. Agama dibuat tujuannya untuk mencari tuhan, masing-masing kan mempunyai tujuan tetapi semua agama itu sama mengajarkan untuk berbuat baik. Agama menjadi pecah karena semua merasa paling benar, padahal orang yang merasa paling benar sebenarnya dia tidak mengerti tentang agamanya. Orang yang pengetahuannya setengah-setengah itu sombong, merasa pintar. Agama apapun yang kita peluk harus kita perdalam.

 

  1. Apa pesan Bapak pendeta untuk kami anak-anak muda di Indonesia untuk ikut serta mendukung dan mewujudkan perdamaian dunia?

Jawab:

Perbedaan itu pasti ada, kalau hanya melihat perbedaan saja pasti jadi ribut. Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan. Di universitas-universitas tertentu banyak sesama fakultas ribut, disosial media ribut lalu bangsa kita mau jadi apa? anak-anak muda itu tulang punggung bangsa. Kalau anak muda di Indonesia tidak bisa menjiwai persatuan maka Indonesia bisa hancur. Indonesia ini terbentuk dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan agama perbedaan-perbedaan inilah yang membuat Indonesia menjadi kaya kalau Indonesia isinya hanya satu bangsa, satu ras, satu bahasa dan satu agama Indonesia akan menjadi miskin.

Leave a Reply